Seba Baduy 2026: Saat Tradisi Leluhur Menyapa Negara di Jantung Pemerintahan Banten

SERANG – ADN.COM
Pintu Gedung Negara Provinsi Banten terbuka bukan sekadar secara fisik, tetapi juga secara simbolik. Sabtu (25/4/2026), Andra Soni menyambut kedatangan 1.552 warga Suku Baduy dalam puncak rangkaian Seba Baduy 2026, sebuah ritual budaya yang sarat makna dan terus hidup di tengah arus modernisasi.

Sekitar pukul 14.10 WIB, ribuan masyarakat Baduy—baik dari Baduy Dalam maupun Baduy Luar—memasuki kawasan gedung pemerintahan dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa. Mereka datang setelah menempuh perjalanan panjang dari pedalaman Kabupaten Lebak, menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Di tangan mereka, tersimpan hasil bumi: simbol kesederhanaan, kearifan, dan rasa syukur. Persembahan tersebut ditujukan kepada pemimpin daerah yang dalam tradisi Baduy dikenal sebagai “Bapak Gede”—sebuah penghormatan kepada pemerintah sebagai representasi negara.

Prosesi “Muka Panto” atau pembukaan pintu menjadi titik awal yang sakral. Momentum ini bukan hanya seremoni, melainkan jembatan nilai antara masyarakat adat dan pemerintah. Setelah itu, suasana berlanjut dengan Karnaval Seba Nusantara yang menampilkan keberagaman budaya dalam balutan harmoni.

Kehadiran tamu-tamu internasional turut memberi warna tersendiri. Perwakilan dari Suriah, Iran, dan Palestina tampak mengikuti prosesi, menyaksikan langsung bagaimana tradisi lokal Indonesia tetap hidup dan dihormati di tengah panggung global.

Antusiasme masyarakat pun tak terbendung. Sepanjang jalur dari Alun-Alun Kota Serang hingga Gedung Negara dipadati warga yang ingin menyaksikan momen langka tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah, menjadikan Seba Baduy bukan hanya milik masyarakat adat, tetapi juga milik publik luas.

Tradisi Seba Baduy sendiri bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah pesan moral yang terus disuarakan: menjaga keseimbangan alam, hidup selaras dengan lingkungan, serta mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada malam hari mulai pukul 19.30 WIB. Namun lebih dari sekadar agenda seremonial, Seba Baduy 2026 menegaskan satu hal penting—bahwa di tengah dinamika pembangunan, akar budaya tetap menjadi fondasi yang tidak boleh tercerabut.

Di Serang hari ini, tradisi tidak hanya dipertontonkan. Ia berbicara, menyapa, dan mengingatkan: bahwa kemajuan sejati adalah ketika modernitas berjalan berdampingan dengan kearifan leluhur. (Red)



Pemred


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *