Di Tanah Suci, Kita Belajar Bahwa Hidup Hanyalah Singgah: Aby Doso Sampaikan Hakikat Haji yang menyentuh hati

LEBAK, BANTEN – ADN.COM
Bulan Mei 2026 menjadi bulan yang penuh haru bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia. Satu per satu para tamu Allah mulai melangkahkan kaki menuju Tanah Suci, meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan seluruh kemewahan dunia demi memenuhi panggilan suci Allah SWT.

Di tengah suasana penuh kerinduan itu, M. Alfian, S.W yang akrab disapa Aby Doso memberikan penerangan dan pemahaman tentang hakikat haji yang begitu menyentuh hati dan menggugah jiwa.

Menurut Aby Doso, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Mekkah, bukan hanya tentang pakaian ihram, thawaf, atau lempar jumrah. Lebih dari itu, haji adalah perjalanan hati menuju Allah SWT. Sebuah perjalanan yang mengajarkan manusia tentang arti kehidupan, keikhlasan, pengorbanan, dan kematian.

“Ketika seseorang memakai kain ihram, sesungguhnya ia sedang diingatkan bahwa suatu hari nanti dirinya juga akan dibalut kain kafan. Tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi kekayaan, tidak ada lagi kesombongan yang dibawa,” ujar Aby Doso dengan mata berkaca-kaca.

Ia menjelaskan bahwa jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci dengan pakaian serupa menjadi tanda bahwa di hadapan Allah semua manusia sama. Tidak ada yang lebih tinggi, kecuali iman dan ketakwaannya.

“Di sana kita belajar, ternyata hidup ini hanya sementara. Yang selama ini diperebutkan di dunia, pada akhirnya akan ditinggalkan. Rumah akan ditinggalkan, kendaraan akan ditinggalkan, bahkan keluarga yang paling dicintai pun suatu saat akan merelakan kepergian kita,” lanjutnya.

Suasana haru semakin terasa ketika Aby Doso mengingatkan bahwa tidak semua orang yang berniat haji akhirnya mampu sampai ke Tanah Suci. Ada yang sudah menabung puluhan tahun namun dipanggil Allah lebih dahulu. Ada yang sehat tiba-tiba sakit. Ada yang mampu secara materi namun belum mendapat panggilan hati.

“Haji adalah panggilan Allah. Maka ketika Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya, itu bukan karena kita kaya, bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah masih memberi kesempatan untuk bertaubat,” tuturnya.

Dalam penyampaiannya, Aby Doso juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya mendoakan para jamaah haji agar menjadi haji yang mabrur, tetapi juga merenungi diri sendiri tentang seberapa siap manusia menghadapi kematian.

“Banyak manusia sibuk mempersiapkan dunia, tetapi lupa mempersiapkan pulang. Padahal hidup ini tidak pernah tahu kapan berhenti. Hari ini kita melihat orang berangkat haji, besok bisa jadi giliran kita dipanggil menghadap Ilahi,” katanya lirih.

Ia berharap momentum musim haji tahun 2026 menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki akhlak, memperbanyak ibadah, serta saling memaafkan sebelum ajal datang menjemput.

“Jangan tunggu tua untuk berubah. Jangan tunggu sakit untuk sujud. Karena kita tidak pernah tahu, apakah napas hari ini masih bisa bertemu esok hari,” pesan Aby Doso.

Rilisan ini pun menjadi pengingat mendalam bahwa hakikat haji bukan hanya perjalanan menuju Baitullah, tetapi perjalanan menyucikan hati sebelum manusia benar-benar kembali kepada Allah SWT. (Riziq)



Pemred


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *