PUASA: ANTARA IBADAH ATAU KEPURA-PURAAN SPIRITUAL

“PUASA: ANTARA IBADAH ATAU KEPURA-PURAAN SPIRITUAL”

Lebak, 17 Pebruari 2026
Ramadhan datang setiap tahun. Manusia berpuasa, menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga senja. Namun pertanyaan yang jarang berani diajukan adalah: apakah yang berpuasa benar-benar jiwa, atau hanya tubuh yang dipaksa menahan makan?

Betapa banyak manusia yang lapar di siang hari, tetapi tetap rakus dalam ambisi. Betapa banyak manusia yang haus menahan minum, tetapi tidak pernah haus akan kebenaran. Puasa sering kali hanya mengubah jadwal makan, bukan mengubah watak kehidupan.

Manusia merasa bangga mampu menahan lapar, padahal ia masih gagal menahan kesombongan. Ia merasa saleh karena rajin beribadah, tetapi tetap memelihara keangkuhan dalam hatinya. Ia menundukkan tubuhnya dalam shalat, tetapi egonya tetap berdiri tegak menuntut pengakuan manusia.

Puasa seharusnya menghancurkan berhala terbesar dalam diri manusia: keakuan. Namun yang sering terjadi, manusia justru membangun berhala baru bernama kesalehan palsu. Ia ingin terlihat religius, ingin dipuji sebagai hamba yang taat, ingin dihormati karena ibadahnya.

Padahal kesalehan yang ingin dilihat manusia adalah kesalehan yang sudah mati ruhnya.

Tasawuf mengajarkan bahwa puasa adalah jalan penghancuran diri yang semu. Puasa bukan sekadar menahan yang halal, tetapi menahan seluruh keinginan yang menjauhkan manusia dari Tuhan. Puasa menuntut manusia untuk berani melihat kebusukan batinnya sendiri.

Namun manusia lebih suka menilai dosa orang lain daripada mengakui keburukan dirinya. Ia mudah menghakimi, tetapi sulit bercermin. Ia sibuk memperbaiki citra dirinya di hadapan manusia, tetapi mengabaikan kehancuran jiwanya di hadapan Tuhan.

Puasa sejatinya adalah ruang kesunyian tempat manusia seharusnya berhadapan dengan dirinya sendiri. Dalam lapar, manusia seharusnya menyadari betapa lemahnya ia. Dalam haus, manusia seharusnya memahami betapa rapuh kehidupannya.

Tetapi manusia justru melarikan diri dari kesadaran itu. Ia menutup lapar dengan pesta makanan saat berbuka. Ia menutup kekosongan jiwa dengan hiburan dunia. Ia takut menghadapi kehampaan batinnya sendiri.

Yang lebih tragis, tidak sedikit manusia yang berpuasa, tetapi tetap memakan hak orang lain. Ia menahan makanan, tetapi menelan kezaliman. Ia rajin berdoa, tetapi tetap menindas yang lemah. Ia bersedekah, tetapi hartanya tumbuh dari ketidakjujuran.

Puasa seperti ini bukan jalan menuju Tuhan. Ia hanya menjadi topeng religius yang menenangkan rasa bersalah.

Dalam perjalanan tasawuf, puasa seharusnya membawa manusia menuju fana, yaitu kehancuran ego. Fana bukan hilangnya tubuh, melainkan hilangnya kesombongan yang membuat manusia merasa memiliki segalanya.

Fana adalah saat manusia menyadari bahwa ia tidak memiliki apa pun. Nafasnya bukan miliknya. Hidupnya bukan miliknya. Bahkan ibadahnya pun bukan hasil kekuatannya sendiri, melainkan karunia Tuhan semata.

Namun fana adalah tahap yang menakutkan, karena ia memaksa manusia melepaskan identitas palsu yang selama ini ia banggakan. Ia meruntuhkan rasa lebih suci, lebih benar, dan lebih mulia dari orang lain.

Setelah fana, manusia seharusnya memasuki baqa, yaitu hidup dengan kesadaran Ilahi. Pada tahap ini, manusia tidak lagi beribadah karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena cinta dan ketergantungan total kepada Tuhan.

Sayangnya, banyak manusia berhenti sebelum sampai ke sana. Mereka puas dengan ritual, tetapi takut dengan perubahan batin. Mereka ingin pahala, tetapi tidak ingin kehilangan ego.

Puasa akhirnya hanya menjadi tradisi tahunan yang meriah, tetapi miskin transformasi spiritual. Masjid ramai, tetapi hati tetap sepi dari kesadaran Ilahi. Doa dipanjatkan, tetapi kezaliman tetap berjalan.

Inilah tragedi terbesar manusia beragama: rajin beribadah, tetapi gagal menjadi manusia yang berbelas kasih. Tekun menjalankan ritual, tetapi tetap menyakiti sesama.

Puasa seharusnya membuat manusia takut berbuat curang, takut berbohong, dan takut menyakiti orang lain. Jika puasa tidak melahirkan perubahan akhlak, maka puasa hanya menjadi lapar yang sia-sia.

Puasa adalah cermin kejujuran spiritual. Ia menelanjangi kepalsuan manusia. Ia memaksa manusia memilih: ingin menjadi hamba Tuhan, atau tetap menjadi hamba nafsunya sendiri.

Jika setelah Ramadhan manusia tetap sombong, tetap zalim, tetap rakus, maka yang berpuasa hanyalah tubuhnya. Jiwanya masih tenggelam dalam kegelapan.

Pada akhirnya, Tuhan tidak membutuhkan lapar manusia. Tuhan tidak membutuhkan ritual manusia. Yang Tuhan kehendaki hanyalah hati yang hancur oleh kesadaran, jiwa yang tunduk oleh kerendahan, dan manusia yang berani jujur pada dirinya sendiri.

Karena puasa sejati bukan tentang menahan makan. Puasa sejati adalah ketika manusia berhenti memakan kesombongannya sendiri.

Penulis: Aby Doso Lebak Banten



Pemred


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *