Jejak Irjen Pol Suyudi, Pengabdian di Banten Jadi Sorotan Dahlan Iskan

BANTEN, ADN.COM — Sosok Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto kembali menjadi sorotan. Kali ini, kiprah Suyudi saat menjabat Kapolda Banten periode Juni 2024 hingga Agustus 2025 mendapat perhatian melalui tulisan wartawan senior Dahlan Iskan berjudul “Jumling Suyudi”.

Dalam tulisannya, Dahlan Iskan menggambarkan Suyudi sebagai sosok yang bergerak cepat sejak dipercaya memimpin Korps Bhayangkara. Namun, yang menjadi perhatian khusus adalah rekam jejak Suyudi ketika memimpin Polda Banten, terutama melalui pendekatan yang dekat dengan masyarakat.

Salah satu program yang melekat pada sosok Suyudi adalah Jumat Keliling atau Jumling. Program tersebut dilakukan dengan mengajak jajaran kepolisian, mulai dari Kapolres hingga Kapolsek, untuk melaksanakan salat Jumat secara berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya.

Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu cara untuk mendekatkan kepolisian dengan masyarakat. Suyudi sendiri secara rutin mengunjungi berbagai wilayah di Banten setiap Jumat, sehingga dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat hingga ke pelosok daerah.

Dalam tulisan Dahlan Iskan, wartawan senior Radar Banten Mashudi menyebut Suyudi bahkan mendapat julukan “Jenderal Jumling” karena konsistensinya menjalankan program tersebut.

“Dengan Jumling itu polisi bisa lebih dekat ke masyarakat,” demikian pernyataan Suyudi yang dikutip dalam tulisan tersebut.

Selain pendekatan sosial dan keagamaan, ketegasan Suyudi dalam menghadapi premanisme di Banten juga menjadi sorotan. Penindakan terhadap praktik-praktik premanisme dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan sekaligus menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif.

Dalam tulisan itu disebutkan, ratusan orang yang terindikasi terlibat aksi premanisme ditindak aparat. Ketegasan tersebut memperlihatkan bahwa keamanan masyarakat dan kepastian berusaha menjadi perhatian dalam kepemimpinan Suyudi di Banten.

Tidak hanya persoalan keamanan, Suyudi juga memiliki program Poliran (Polisi Peduli Pengangguran). Program tersebut berangkat dari pemikiran bahwa persoalan pengangguran dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kriminalitas dan gangguan keamanan.

Melalui program tersebut, kepolisian mendorong pelatihan keterampilan dan kesempatan magang bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan. Mereka yang mengikuti pelatihan kemudian diarahkan untuk memperoleh pengalaman kerja sehingga memiliki peluang yang lebih luas untuk memasuki dunia kerja.

Sementara di internal institusi, Suyudi juga dikenal memberikan perhatian terhadap kedisiplinan anggota, termasuk persoalan penyalahgunaan narkoba di lingkungan kepolisian.

Jejak kepemimpinan Suyudi di Banten tersebut kini kembali mendapat perhatian setelah dirinya dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolri. Berbagai pendekatan yang pernah dilakukan di Banten menjadi bagian dari rekam jejak pengabdian yang turut membentuk harapan masyarakat terhadap kepemimpinannya di tingkat nasional.

Sosok Suyudi juga digambarkan sebagai pribadi yang sederhana dan dekat dengan keluarga. Sebagai putra asli Pandeglang, Banten, ia disebut tetap menjaga kedekatan dengan keluarga dan masyarakat tanpa menonjolkan jabatan yang diembannya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu dibangun melalui seremoni dan pidato, tetapi juga melalui kehadiran, keberanian mengambil sikap, kedekatan dengan masyarakat, serta konsistensi dalam menjalankan program yang menyentuh persoalan nyata di lapangan.

Kini, ketika estafet kepemimpinan Polri berada di tangannya, publik tentu menantikan bagaimana nilai-nilai pengabdian yang pernah ditunjukkannya di Banten dapat diterjemahkan dalam skala yang lebih luas untuk membawa institusi Polri semakin dekat, tegas, profesional, dan dipercaya masyarakat. (Red)



Pemred


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *