BANDUNG, ADN.COM – Upaya mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda tidak selalu harus disampaikan melalui kampanye formal.
Seni dan budaya lokal dapat menjadi medium edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
Pendekatan tersebut terlihat dalam Grand Final Pasanggiri Agung Kawih Sinom “Narkoba Musuh Bangsa” yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Barat di Gedung Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Kota Bandung, Senin (14/9/2026).
Kegiatan tersebut memadukan seni tradisional Sunda dengan pesan antinarkoba. Sebanyak 182 peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat mengikuti rangkaian seleksi yang berlangsung secara daring sejak 10 hingga 31 Agustus 2026.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai pendekatan melalui kebudayaan dapat menjadi salah satu cara untuk menanamkan kesadaran mengenai bahaya narkoba sejak usia dini.
Menurut Farhan, pelajar di Kota Bandung memiliki kedekatan dengan kegiatan seni dan budaya Sunda. Sejumlah sekolah bahkan aktif mengikuti berbagai pasanggiri hingga tingkat Jawa Barat.
Karena itu, ia membuka peluang agar konsep edukasi antinarkoba melalui kawih sinom dapat dikembangkan di lingkungan sekolah sebagai bagian dari pembelajaran.
“Saya sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Kepala BNN Provinsi. Beliau juga ternyata seorang seniman. Saya insyaallah izin untuk mempelajarinya. Kami akan membawa ini ke Dinas Pendidikan Kota Bandung agar bisa dijadikan sebagai muatan lokal,” ujar Farhan.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan narkoba dapat dilakukan dengan pendekatan yang tidak semata-mata menekankan larangan.
Pesan pencegahan bisa disisipkan melalui aktivitas yang disukai anak muda sehingga mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses menyampaikan pesan tersebut.
Farhan mengatakan tantangan pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja juga berkaitan dengan faktor psikologis dan lingkungan pergaulan.
Ia menyoroti dua hal yang perlu mendapat perhatian, yakni rasa ingin tahu dan tekanan dari lingkungan sebaya atau fear of missing out (FOMO).
“Hal pertama yang mesti dilakukan dalam menanggapi masalah ini di kerangka pencegahan dini adalah bagaimana kita bisa mengendalikan rasa ingin tahu para remaja. Nomor dua, peer pressure atau tidak mau ketinggalan dengan orang lain. Jadi ada dua, rasa ingin tahu dan FOMO,” katanya.
Menurut Farhan, rasa ingin tahu dan FOMO sebenarnya tidak selalu bersifat negatif. Keduanya dapat diarahkan menjadi energi untuk mengejar prestasi dan mengembangkan kemampuan diri.
Persoalan muncul ketika rasa ingin tahu tidak mendapatkan pendampingan dan tekanan pergaulan membuat remaja takut berbeda dari teman-temannya.
Dalam kondisi seperti itu, keluarga dan sekolah memiliki peran penting. Orangtua menjadi salah satu pihak pertama yang dapat membantu anak memahami risiko dari setiap keputusan yang diambil.
“Para orang tua di keluarga terutama itu jadi gerbang pertama untuk bisa mengendalikan rasa ingin tahu dan juga FOMO dari anak-anak kita,” tutur Farhan.
Ia mencontohkan tekanan teman sebaya dapat muncul melalui ajakan melakukan sesuatu yang berisiko. Remaja yang ingin diterima kelompok dapat merasa tidak nyaman ketika memilih menolak.
“Ketika FOMO nanti kan enggak enak dibilangin, ‘Ah payah lu enggak ngerokok, ah payah lu enggak pakai’. Nah itu yang harus dikelola dengan sangat baik, baik oleh keluarga maupun oleh sekolah. Itu tantangan terbesarnya,” kata Farhan.
Karena itu, edukasi pencegahan narkoba membutuhkan pendekatan yang konsisten antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Pesan antinarkoba tidak cukup hanya disampaikan ketika muncul kasus, tetapi perlu ditanamkan sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Pasanggiri kawih sinom menjadi salah satu contoh bagaimana pesan tersebut dapat disampaikan melalui medium budaya yang sudah dikenal masyarakat Jawa Barat. Pelajar, pemuda, dan masyarakat tidak hanya menjadi sasaran kampanye, tetapi ikut menjadi penyampai pesan melalui kreativitas mereka.
Selain memperebutkan Piala Gubernur Jawa Barat, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk mengekspresikan penolakan terhadap narkoba melalui seni tradisional.
Pada kategori pelajar, Muhammad Rafi Putra Pangestu menjadi juara pertama, disusul Asep Tatang Hidayat dan Griselda Martatila Putri. Sementara kategori umum dimenangi Wendy Widya Rahayu, diikuti Eva Purnama Dewi dan Destiana Erlinda Dewi.
Bagi Bandung, pendekatan berbasis budaya tersebut dapat menjadi alternatif dalam memperkuat pencegahan narkoba.
Ketika pesan disampaikan melalui ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda, pencegahan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berpotensi menjadi bagian dari kebiasaan dan kesadaran sehari-hari. (Red)

















